Rabu, November 13, 2019
sulteng welcome
Iklan Haji
Sulteng

Alasannews.com, Gunung Kidul-Jogyakarta | Tim Dinas Pariwisata Tolitoli, mendapat banyak pelajaran berharga dari Desa Ngelanggerang, kecamatan Patuk, Kabupaten Kidul Jogyakarta. Desa ini, mampu meraup dana miliaran rupiah pertahunnya dari sektor pariwisata yang didukung usaha  mikro melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)

Kepal Dinas pariwisata Tolitoli, Urip Halim diampingi sejumlah staf, Masnawir, Naslim dan Ahyar Tauhid merasa tercengang atas prestasi desa tersebut dalam memanfaatkan sumber daya mereka bagi perekonomian masyarakatnya.

Dapat disimpulkan, pariwisata tidak dapat dilepaskan dari pengembangan sumber daya masyarakat melalui beberapa usaha seperti usaha mikro dengan dukungan Bumdes setempat.

"Mereka, sudah sangat maju usaha mikronya yang dikelolah Bumdes," ujar Masnawir.

Dalam diskusi panjang tim kami kata Masnawir, desa itu bisa menghasilkan dana miliaran rupiah dengan menggerakkannkelompok sadar wisatanya. Sejalan dengan itu, semua stakeholder juga harus  satu visa dalam membangun pariwisata, imbuhnya.

Bagaimana dengan Tolitoli?

Menurut Kadis pariwisata Tolitoli, dengan sudah dicanangkannya Tolitoli sebagai destynasi Dunia, oleh bupati Moh Saleh Bantilan, maka mau tak mau kita meramunya dengan hasil study di Jogyakarta ini untuk bagaimana bisa dikembangkan di kabupaten kita--Tolitoli.

Memang, pengembangan pariwisata sangat identik dengan gerakan ekonomi rakyat. Artinya, rakyat harus diberdayakan dalam menyambut kunjungan wisatawan itu. Apakah itu wisatawan lokal atau manca negara, masyarakat hatus ada keterikutannya.

Ketrikutan dimaksud, apakah dalam bentuk penyediaan jasa tempat, kuliner, souvenir atau lainnya. Sehingga , dalam pengembangan pariwisata, pembentukan kelompok masyarakat sadar wisata menjadi kunci dan dibeberapa daerah menjadu ujung tombak, seperti di Desa Ngalenggareng itu.puan

 
Alasannews.com, Palu-Sulteng | Ribuan mahasiswa dari sejumlah Perguruan Tinggi di Kota Palu melakukan aksi unjuk rasa menolak pengesahan UU KPK di depan kantor DPRD Sulteng hari ini, Rabu (25/9/2019).

Aksi ini merupakan sikap penolakan atas pengesahan Undang - undang KPK dan penolakan terhadap paya pengesahan RKUHP serta beberapa rancangan Undang-undang lainnya.
Menurut para pengunjuk rasa, UU KPK yang baru saja disahkan oleh DPR RI, sangat kontroversial dan tidak sejalan dengan kehendak pemberantasan korupsi di Indonesia.
 
Demikian pula RUU lainnya yang sempat dikebut di penghujung masa jabatan DPR RI periode 2014-2019.

"Kami semua turun aksi ini karena alasan utama menolak UU KPK baru yang tidak pro pemberantasan korupsi," tandas Ansar, salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Untad kepada alasannews.com saat aksi Jedah usai ricuh.

Aksi penolakan mahasiswa Palu atas UU KPK dan RUU lainnya merupakan rangkaian aksi mahasiswa secara nasional. Penolakan itu menggema di seluruh pelosok negeri.

Sehari sebelumnya, di DPR RI Senayan, mahasiswa melakukan aksi serupa. Sama dengan di Jakarta, aksi massa di Palu pun sempat bentrok dan ricuh saat hendak dibubarkan oleh aparat keamanan.

Kericuhan aksi di Palu terjadi sekitar pukul 13.15 WITA. Saat itu, ribuan mahasiswa mencoba menerobos blokade aparat kepolisian untuk masuk ke dalam kantor DPRD Provinsi Sulteng yang mana sedang berlangsung pelantikan Anggota DPRD yang baru.
 
 
Blokade polisi sempat jebol oleh Ribuan massa aksi. Menghindari hal yang tak terkendali, petugas berusaha membendungnya, hingga akhirnya terjadi ricuh.
 
Petugas berhasil mengendalikan situasi dan mendorong mahasiswa hingga perempatan lampu merah Samratulangi-S Parman. Mahasiswa pun berhamburan dan terbagi ke tiga arah, Jalan S. Parman, arah Karampe dan arah Tugu Kuda.

Ditempat itu, mahasiswa berusaha mengkonsolidasikan diri. Upaya mahasiswa itu sempat stagnan dan kocar kacir karena kehilangan komando.

Pasalnya sejumlah koordinator Lapangan (korlap) dari setiap perguruan tinggi dan kendaraan komando mereka diamankan pihak keamanan.......(Ma'ruf Asli).
Selasa, 24 September 2019 19:16

Kota Buol Malam Ini Diguyur Hujan

Ditulis oleh

Alasannews.com, Buol-Sulteng | Ibukota kabupaten Buol dan sekitar, diguyur hujan. Termasuk, kawasan hutan di areal Gunung Nandu, yang dua hari terakhir terbakar hutan dan lahanya.

Pantauan, alasannews.com, Selasa petang ini (24/9) hujan deras sudah sekitar satu jam masih terus mengguyur Bonubogu dan Gadung. Tampak, di beberapa tempat genangan air hujan, pertanda hujan begitu deras.

Kapolres Buol AKBP Budi Priyatno Sik menjawab Alasannews.vom via WhatsApp mengatakan, hujan terpantau deras di sekitar kecamatan Bunobogu dan Kecamatan Gadung. Sementara di tempat lain juga mengalami hujan yang sama.

Sebelumnya, tanggal 21 September ini di Lapangan Kuonoto, Buol masyarakat dan aparat Pemda menggelar shalat istiqsa sehubungan kemarau yang berkepanjangan melanda kabupaten paling utara Sulawesi Tengah itu.

Dipantau alasannews.com, api yang melahap puluhan hektar kawasan Gunung Nandu juga dengan adanya hujan tampak padam. Ya, pa Kapolres juga mengatakan kalau hujan yang mengguyur Buol sore sekitar pukul 18.30 ini termasuk di kawawan Hutan Nandu yang terbakar.

Seperti berita sebelumnya, bahwa Pemadaman Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di puncak Gunung Nandu, Buol Sulawesi Tengah terkendala medan yang terjal dan jalan berbatu.

Puncak gunung Nandu, bisa dijangkau jalan kaki lebih kurang 2 KM. Mobil Dari Polres terpaksa tidak masuk untuk memadamkan api.

"Ya kita padamkan pakai apa saja yang ada. Tampak masyarakat memukulkan tongkat ke api agar tidak melebar," ujar petugas.

Karno

Halaman 3 dari 164

Berita Terkini

Empek Empek
Valentio112

Terkini Olah Raga

Sekprov
MOH SALEH
Bupati dan Wakil Ramdhan
Rustam Rewa1
dr adjimain
Fadjar S

Kontak Polisi

RESOR PALU