Jumat, November 22, 2019
sulteng welcome
Iklan Haji
Minggu, 23 Jun 2019 13:14

Pemda Perlu Urusi Cagar Alam yang Sudah Ada

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(1 Pilih)

foto:manager kampanye dan perluasan jaringan (stevandi)

Alasannews.com, Palu--Sulteng | Togean, Sulawesi Tengah dan Saleh-Moyo-Tambora (SAMOTA), Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini ditetapkan menjadi cagar biosfer dunia ke-15 dan 16 dunia pada sidang ke-31 Internasional Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programe di Paris, Prancis Rabu (19/6).

Sidang yang dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Tengah Drs. Longki Djanggola, M.Si ini mengusulkan agar Togean bisa masuk menjadi cagar biosfer dunia karena memiliki keragaman hayati yang sangat potensial untuk menjaga ekosistem yang ada di wilayah itu.

WALHI Sulawesi Tengah, Melalui Manajer Kampanye dan Perluasan Jaringan Stevandi menjelaskan bahwa, sangat mengapresiasi dijadikannya Togean sebagai cagar biosfer dunia. Hal ini dikarenakan Togean merupakan wilayah kepulauan yang selama ini dikenal memiliki kekayaan bahari yang sungguh luar biasa serta keragaman ekosistem yang sangat bermanfaat bagi kita.

Kita cukup mengapresiasi hal ini, ini sangat baik untuk kelangsungan ekosistem yang ada di kepulauan Togean apalagi seperti yang kita ketahui, ditempat ini terdapat ratusan spesies tanaman serta habitat hewan yang seharusnya dilindungi.

Selain itu, ini sangat baik untuk perekonomian masyarakat, sebab Togean merupakan daerah destinasi wisata yang sudah menjadi tempat berkunjung oleh turis mancanegara maupun domestik. Sehingga dari sektor pariwisata ini makin potensial; yang tak kalah penting juga, ini cukup baik untuk pengembangan pengetahuan soal kekayaan bahari dan ekosistem wilayah pesisir yang seharusnya terus di dorong oleh Pemerintah Daerah. 

Namun dilain pihak, WALHI Sulteng memandang, dijadikannya Togean sebagai cagar biosfer patut memperhatikan rencana kelola di cagar tersebut. Dalam artian, pengelola yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah nantinya, harus benar-benar siap, baik secara pengetahuan soal cagar biosfer dan yang paling penting harus memiliki komitmen dalam pelestarian lingkungan.

Selain itu juga, yang perlu diingat jangan sampai kehadiran cagar biosfer ini justru tidak memperhatikan hak-hak masyarakat/nelayan yang sudah sejak dulu beraktifitas di wilayah ini sehingga antara kebijakan pemerintah dapat menjamin hak kelola masyarakatnya.

“Jangan sampai nanti pengelolanya justru bukan mereka yang memiliki komitmen dalam pelestarian lingkungan, bila ini terjadi, semangat pelestarian lingkungan dalam mendorong cagar biosfer ini, hanya menjadi pencitraan semata. ” Ujar Stevandi.

Kita cukup berbangga dengan dijadikannya Togean menjadi cagar biosfer tapi tidak menutup mata kita terhadap cagar alam yang sudah dari dulu ada di Sulawesi Tengah. Kita tahu bersama, di Sulawesi Tengah selain Togean, Lore Lindu juga merupakan cagar biosfer yang sudah ada di Sulawesi Tengah.

“ Dalam hal ini, negara/ Pemerintah Daerah juga perlu memperhatikan cagar alam/biosfer yang sudah ada sejak lama di Sulawesi Tengah. Apalagi kita ketahui, masih banyak persoalan yang terjadi dibeberapa cagar alam di Sulawesi Tengah yang belum terselesaikan hingga hari ini. Jangan sampai kita terus mendorong cagar alam baru, tapi cagar alam yang sudah lama tidak terurus bahkan ada aktivitas ilegal di dalamnya. Ini patut menjadi tekanan kepada Pemerintah Daerah sebagai perpanjangan tangan dari negara di Sulawesi Tengah," tutup Stevandi.pu

Baca 117 kali

Berikan komentar

TULIS PESAN

Berita Terkini

Empek Empek
Valentio112

Terkini Olah Raga

Sekprov
MOH SALEH
Bupati dan Wakil Ramdhan
Rustam Rewa1
dr adjimain
Fadjar S

Kontak Polisi

RESOR PALU