Selasa, November 12, 2019
sulteng welcome
Iklan Haji
Minggu, 23 Jun 2019 07:12

Sekdaprov: Apoteker Sama Penting dengan Dokter

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(1 Pilih)

Alasannews.com, Palu--Sulteng | Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng Dr. Moh Hidayat Lamakarate, M.Si sangat mengapresiasi profesi apoteker yang juga sama pentingnya dengan dokter dan perawat.

"Karena selain belajar obat (apoteker) juga belajar membaca huruf-huruf (resep) dokter dan uniknya hanya mereka yang bisa," pujinya saat jadi pembicara pada Konferensi Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sulteng, Sabtu siang (22/6), di Hotel Swissbell.

Kesempatan itu, Ia membagi pengalaman saat mengurus sektor kesehatan di Banggai Laut, tepatnya sewaktu jadi Pj Bupati beberapa tahun lalu.

Kendala yang dihadapi lanjutnya seperti belum adanya dokter spesialis di sana.

"Rumah sakit besar tapi sepi, pasien yang datang hanya 5. Mengapa, karena mereka cukup berobat di puskesmas saja," ingatnya akibat belum adanya dokter spesialis di RS tsb.

Menyiasatinya Ia lalu mendatangkan tenaga dokter spesialis dari luar pulau meski konsekuensinya pemkab harus membayar insentif tambahan plus menyediakan fasilitas rumah dan kendaraan dinas.

Langkah itu lanjutnya cukup berhasil meyakinkan masyarakat berobat ke rumah sakit tapi justru membuat masalah baru yaitu apotek tidak sanggup mengcover obat-obat generik atau yang ditanggung BPJS.

Ditambah lagi jumlah apoteker yang terbatas, yang belum merata di kabupaten berwilayah kepulauan itu.

Dari kisah itu maka Sekda mengharap IAI mendata daerah-daerah mana saja di Sulteng yang kekurangan apoteker supaya nanti bisa disebar secara merata.

Ia juga meminta IAI gencar mensosialisasi masyarakat tentang manfaat obat generik yang sebenarnya sama saja dengan obat paten yang diklaim lebih manjur tapi lebih mahal.

"Ini sangat mengganggu psikologi masyarakat," ungkapnya menyoal masih adanya masyarakat yang belum percaya dengan kemampuan obat generik.

Sementara Ketua Umum IAI Pusat Drs. Nurul Falah, Apt berharap terwujudnya kesetaraan antara apoteker selaku tenaga farmasi dengan dokter selaku tenaga medis.

Kesenjangan kedua profesi itu lanjutnya bisa diatasi kalau saja dibangun sistem interprofessional education atau sistem pendidikan kolaborasi yang dikenalkan sejak para calon dokter, apoteker, perawat dan rumpun medis lainnya masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah masing-masing.

"Supaya nanti waktu mengabdi terjadi kolaborasi antara tenaga farmasi dan medis jadi tidak ada yang merasa superior dan bisa saling menghargai," pungkasnya tentang ide itu.

Selain menggelar konferensi, menurut Ketua IAI Sulteng Jamaludin, S.Si, SH, Apt, para peserta juga dibekali lewat seminar dan kegiatan akan berlangsung 2 hari.bhst/ son

Baca 94 kali

Berikan komentar

TULIS PESAN

Terkini Olah Raga

Sekprov
MOH SALEH
Bupati dan Wakil Ramdhan
Rustam Rewa1
dr adjimain
Fadjar S

Kontak Polisi

RESOR PALU