Kamis, Desember 12, 2019
hut daerah
Senin, 11 November 2019 12:12

Fasilitator Diduga Menghambat Pencairan RTG di Lombok Utara

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(1 Pilih)

Fasilitator Diduga Menghambat Pencairan RTG di Lombok Utara

ANcom--Lombok Utara | Aplikator Rumah Tahan dan Aman Gempa 9SR+(RTG) Kuat Mudah Aman dan Cepat (KUMAC) mempertanyakan sikap fasilitator yang terkesan menyepelekan dan diduga menghambat pencairan dana RTG meski sudah terbangun 100 persen. PT. Kumac Platpac House dengan jenis bangunan Kumac merupakan RTG ke 8 yang mendapat rekomendasi dari Pemerintah, Mengklaim sejak 5 bulan RTG terbangun belum menerima pembayaran tahap kedua.

“Saya belum paham alasan Fasilitator yang tugasnya pendampingan, bukan pengambil kebijakan, malah terkesan mempersulit pencairan dana RTG yang sudah selesai kami kerjakan,”ungkap Direktur Utama Kumac, Hun Hanie, Kamis (7/11).

Dijelaskannya, dalam perjalanannya selama ini Kumac tidak pernah menemui masalah soal pencairan. Produk Kumac tersebar di semua Kecamatan Kabupaten Lombok Utara hampir semuanya tidak ada masalah. Namun, di pencairan Kumac yang di Desa Gili Indah ini terkesan dipersulit oleh fasilitator.

“Di Gili Indah hanya 47 RTG Kumac yang sudah 100 persen kami bangun namun belum bisa dicairkan 100% lantaran Fasilitator enggan mendampingi pokmas dalam pencairan. Alasannya bermacam-macam mulai dari persoalan DED, Speck hingga ada beberapa warga menolak karena dianggap tidak sesuai harapan,”paparnya.

Jika memang itu yang dipersoalkan, katanya, Rekomendasi RTG dari pemerintah jangan diragukan, karena proses kami mengurus ijin RTG tidak mudah, kami berproses selama 7 bulan untuk mendapatkan ijin RTG KUMAC, hasil perhitungan struktur tahan gempa kami pun perhitungan nya dari dua profesor yaitu Prof Iswandi dari ITB dan Doctor Buan dari Unram, belum lagi soal uji kelayakan teknis yang lain. Proses nya tidak mudah dan panjang."imbuhnya

Menurutnya, yang di persoalkan fasilitator mengada-ada. Karena setiap kali rencana pencairan, fasilitator selalu mangkir, dengan mempermaslahkan hal yang lain lagi. Padahal, perusahaan telah menjamin semua pekerjaan RTG Kumac sudah sesuai dengan kesepakatan dengan pokmas, bahkan perusahaan memberikan garansi terhadap RTG Kumac yang telah terbangun selama 25 Tahun, apakah ada RTG lain yg sanggup dan berani memberikan garansi kepada masyarakat ??," Tandasnya

“Kami beri jaminan berupa garansi 25 tahun. Jika ada keluhan kami langsung perbaiki dan realisasikan meski hanya soal cat yang mengelupas pun kami akan perhatikan,”ungkapnya.

“Garansi yang kami berikan berupa apa bila rumah tersebut rusak karena bencana alam seperti gempa bumi, agin kencang, bahkan dari karat, rayap, dan jamur juga kami berikan garansi, hingga fasilitator meminta ada tambahan garansi anti tikus dan anti ayam pun kami setujui, bahkan jika terjadi gempa lagi dan rusak kami akan ganti baru. Karena RTG Kumac itu menggunakan bahan yang dilapisi fiber yang sangat tahan dan aman dari gempa, jangankan menimbulkan korban jiwa, insyaallah bahan RTG Kumac apabila seandainya roboh piring saja tidak akan pecah ,”sambungnya.

Lebih lanjut Direktur PT Kumac, "yang menjadi tanda tanya adalah, warga telah menempati rumah selama kurang lebih 5 Bulan walaupun kewajiban pokmas membayar 100% belum tuntas karena terhambat fasilitator yang belum kunjung mau mandampingi, pertanyaannya adalah kenapa tiba-tiba ada oknum warga di gili terawangan yang setelah kami selidiki bukanlah atas nama warga penerima bantuan dan fasilitator itu mempersoalkannya setelah lima bulan mereka tempati rumah RTG Kumac itu. Perusahaan juga tidak ujuk-ujuk memulai membangun tanpa ada SPK/Kontrak yang ditandatangani oleh pokmas dan koordinasi yang dilakukan dengan pihak terkait. Buktinya mereka warga penerima RTG sudah menandatangani seluruh administrasi yang di perlukan dari memulai membangun sampai pencairan.

“SPK di tandatangani tanggal 3 Juli 2019 dan pengerjaan rumah kami selesai 1 bulan setelah kontrak ditandatangani. Harusnya sekarang ini kami sudah menerima pembayaran itu karena sudah kuran lebih 5 bulan selesai pembangunan 100 persen. Namun apa yang kami terima sekarang ini, fasilitator belum mau mendampingi pokmas untuk pencairan dengan berdalih berbagai alasan,”pungkasnya.

“Tapi kami tidak ingin terburu-buru mengambil sikap karena kami masih mengedepankan musyawarah mufakat dan mediasi. Parahnya, Kalak BPBD sudah tanda tangan di berkas pencairan 30 persen tahap 2 tapi fasilitator tidak kunjung mendampingi pencairan,”sambungnya.

Baginya, membantu percepatan pembangunan rumah warga adalah yang utama. Karena dari awal, orientasi perusahaan hanya ingin rumah warga terbangun cepat aman dari gempa dan sehat serta masyarakat bisa segera punya rumah dan menemptinya.

“sore ini kami akan mediasi di kantor BPBD lombok utara bersama BPBD Lombok Utara, Fasilitator, Pokmas TPK dan lain lain, terkait persoalan pencairan gili yang sudah lama tertunda untuk segera dapat di cairkan, kasihan kan pengusaha sudah capek kerja, rumah masyarakat sudah 5 bulan jadi dan sampai saat ini belum kunjung di tuntatsakan pembayaran nya,”tandasnya.(ms/Zi JN)

Baca 61 kali
Ruslan S Untuh
Mapri
Alimran
Kadis Perkebunan
Ruslan Hadi
Minarni
abd rhman
Amrin Haling
Kadri
Jusman
rusdi
Irfan s
Naharudin
sumardin

Kontak Polisi

RESOR PALU