Minggu, Desember 15, 2019
hut daerah
Kamis, 08 Agustus 2019 16:15

Tragedi Cengkeh di Tanah Zamrud Katulistiwa

Foto : Komunitarkretek.or.id


 

Cengkeh (syzygium Aromaticum) adalah rempah utama yang menjadikan rokok kretek berbeda dengan rokok putih. Merupakan tanaman asli Nusantara yang telah mengubah sejarah peradaban dunia.

Cengkeh juga telah dikenal ribuan tahun sebelum masehi pada masa kerajaan Romawi Kuno. Berkhasiat bagi kesehatan dan bernilai ekonomis tinggi. Mendorong Vasco Da Gama, penjelajah legendaris dari Portugis, mengelilingi dunia untuk menemukannya dan menempatkannya pada peta dunia saat itu. Sejarah rempah (cengkeh dan pala) adalah sejarah perdagangan.

Nicol o Conti seorang pedagang Venesia meyakini bahwa cengkeh berasal dari Pulau Banda dan Sekitarnya. Beberapa ahli botani menyebutkan bahwa cengkeh berasal dari Pulau Ternate, Tidore, Makian, Woti, hingga pulau Rote di selatan.

Melihat hal itu VOC berusaha merebut pangsa cengkeh dengan memukul mundur Portugis, lalu merajai perdagangan cengkeh dengan keuntungan yang luar biasa saat itu. Dan selama hampir dua abad VOC merajai perdagangan cengkeh. Piere Poivre, seorang penjelajah Perancis, berhasil “mencuri” bibit cengkeh dari Maluku dan mengembang-biakkannya di Zanzibar, sebuah wilayah jajahan Perancis.

Persaingan bebas menempatkan cengkeh Zanzibar sebagai primadona, menggeser cengkeh Nusantara. Cengkeh Zanzibar konon lebih diminati karena kandungan minyaknya yang lebih rendah. Selanjutnya, The French East India Company berhasil menggusur VOC ke dalam jurang kebangkrutan sekaligus merebut monopoli perdagangan cengkeh Eropa pada tahun 1798.

Pada pertengahan abad XIX harga cengkeh dari Ambon-Lease cenderung melorot turun. Dan jumlah produksinya pun terus berkurang sejalan dengan penghapusan politik tanam paksa sejak 1 Januari 1864. Perkebunan dan perdagangan komoditi cengkeh dari Nusantara porak-poranda.

Hingga pada suatu ketika harga cengkeh Ambon menunjukkan grafik meningkat. Jumlah pohon cengkeh pun meningkat di afdeling Ambon dan afdeling Ternate. Memenuhi kebutuhan saus rempah rokok kretek. Fenomena kebangkitan industri rokok kretek, rokok asli Nusantara!

Saat ini, tanaman cengkeh sudah menyebar kepenjuru wilayah Indonesia, Sulawesi, Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara, dengan luas areal tanam cenkeh  mencapai 542.281 ha. Sehingga produksi cengkeh Indonesiapun menjadi 139.522 ton ditahun 2016. Maluku dan Ternate tidak lagi memegang peranan penghasil dan penanam cengkeh terbanyak, akan tetapi merambah ke Sulawasi Utara dan Sulawesi Tengah. Meskipun saat ini Maluku dan Ternate masih memegang dominasi produktifitas cengkeh tertinggi di Indonesia dengan 662 kg/ha.

Menurut Market Intelligence , tridge.com,  Indonesia menjadi peringkat pertama negara penghasil cengkeh dunia dengan pangsa pasar 77% dari total produksi cengkeh dunia , dengan jumlah  volume produksi  cengkeh sebesar 139,52 M Ton pada tahun 2016. Pernyataan itu bersesuaian dengan  Data Statistik Kementerian Pertanian Dirjen Perkebunan yang juga  menyebutkan besaran volume produksi cengkeh Indonesia sebesar 139, 52 Metrik Ton pada tahun 2016.

Melihat fenomena itu Indonesia sudah dapat dipastikan berjaya dalam hal produksi cengkeh. Namun seiring dengan itupula perkembangan rokok kretek di Indonesia berbanding lurus dengan produksi cengkehnya, juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Menurut Litbang Kementerian Pertanian, kebutuhan rokok Indonesia meningkat setiap tahunnya. Ditahun 2013 diperkirakan terdapat sekitar 53-62 juta perokok dengan konsumsi perkapita berkisar 3.600-4.700 batang pertahun, dengan laju pertumbuhan rokok 4,2% pertahun. Sehingga pada tahun 2015 saja kebutuhan cengkeh akan rokok sudah mencapai 130.000 ton. Artinya pada tahun 2019 akan mencapai estimasi 158.000 ton. Lalu bagaimana bila dihitung dari produksi cengkeh diIndonesia yang tingkat perkembangannya rata-rata 6,2% pertahun. Bila di hitung secara matimatis, terjadi over produksi sebanyak 25.000 ton pada tahun 2019, jikalau hanya untuk rokok saja. Dapat juga dikatakan bahwa 90% jeripayah petani hanya untuk kebutuhan rokok semata. Lalu sisanya untuk kebutuhan rempah, kosmetik, medis dan ekspor.

Ketika berbicara ekspor sungguh memilukan, ekspor cengkeh Indonesia hanya dihargai pada kisaran $2,3 bila dilihat dari Data Statistik Dirjen Pekerbunan, sedikit lebih besar bila dilihat dari data tridge.com mencapai $4 pada tahun 2016. Indonesia juga harus mengimpor cengkeh dengan $8 per kilo sebanya 6.571 ton, menurut cbi.eu, impor indonesia terjadi karena  kebutuhan bahan rokok kretek yang harus di impor dari Madagaskar.

Bila begitu jalan ceritanya, negara Zamrud Katulistwa ini induk dari cengkeh dunia, produksi cengkehnya hanya diperuntukkan untuk konsomsi rokok kretek dalam negeri dan dihargai cukup murah bila di lempar ke pasar Global, karena disamping Indonesia ada sembilan negara berkembang lainnya yang menjadi produsen cengkeh yang sudah tentu ikut meramaikan persaingan pasar cengkeh dunia.

Terlebih lagi muncul dua negara exportir asia, singapura dan hongkong, serta sembilan negara eropa lainnya, semakin menyemarakkan pasar cengkeh global. Lalu bagaimana singapura menghasilkan cengkeh, sedangkan kita ketahui besaran negara singa itu hanya sekelumit saja. rupanya Singapura menjadi ekportir dengan menjadi importir. Pada tahun 2016 Singapura mengimpor cengkeh sebanyak 11.380 Ton dengan harga beli perkilo senilai $8, dan mengekspornya senilai $9 .

Bila kita asmumsikan sesuai informasi, harga jual cengkeh Indonesia $2,3  sampai $4, dibeli singapura dengan $8 lantas kemana selisihnya?. Atau kalau benar kita mengekspor cengkeh ke Singapura, dengan harga $2,3 sampai $4 kemudian dijual Singapura dengan harga $9, berari Singapura meraup untung $5 per kilo.

Dalam kesempatan wawancaranya dengan republika.com pada tahun 2017 lalu, Menteri perdagangan Enggartiasto Lukita menyayangkan "Singapura saat ini lebih terkenal sebagai negara eksportir rempah-rempah ketimbang indonesia yang sempat berjaya pada perdagangan komuditas tersebut. Sumbernya dari Indonesia, dijual kesingapura kemudian singapura dikenal sebagai negara eksportir rempah-rempah"

Pada kesempatan yang sama Enggartiasto Lukita mengatakan "seharusnya Indonesia bisa memenuhi kebutuhan rempah dalam negeri dan meningkatkan ekspor. Enggar mengakui saat ini kinerja ekspor rempah-rempah masih menurun, bahkan masih bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas, seperti cengkeh dan lada"

Berdasarkan data BPS periode Januari hingga November 2016, kondisi rempah Indonesia memang menunjukkan tren penurunan ekspor. Kementerian Pertanian (Kementan) juga tengah fokus mendorong komoditas cengkeh, lada, biji pala sesuai keunggulan wilayah masing-masing. Kementan tahun 2017 menyediakan bibit cengkeh yang diberikan secara gratis sebanyak 30 juta batang di seluruh wilayah Indonesia.

Bisa dibayangkan siapa yang meraup untung bila ada 30 juta tanaman cengkeh lagi, diluar peremajaan dan tanaman cengkeh baru petani. Sementara dengan logika matematisnya terjadi over produksi cengkeh untuk rokok. Terbukti dengan merayapnya harga cengkeh di Indonesia sampai Rp.73.000,- (di Kab. Tolitoli) dengan  kecenderung semakin turun. Harga ekspor cengkeh Indonesiapun terbilang rendah.  Lantas bagaimana kita akan meningkatkan volume ekspor bila harganya begitu rendah.

Menyimak hal tersebut dapat dikatakan cengkeh Indonesia menjadi berkembang karena adanya rokok kretek, bukan karena adanya ekpor cengkeh. Para petani akan turut sejahtera bila yang diekpor adalah rokok kretek bukanlah export cengkeh.

Konon, banyak negara tidak mau memberikan izin masuk pada rokok kretek Indonesia, Bukan karena hanya adanya perbedaan rasa saja tapi juga regulasi, seperti Amerika misalnya, sampai-sampai Indonesia harus mengadu pada WTO. Menurut Negara Paman Sam itu Amerika secara spesifik melarang ekspor produk rokok Indonesia yang mengandung cengkeh, alias kretek. Rokok asli nusantara itu dianggap masuk kategori rokok berperasa, sehingga merujuk Peraturan Presiden Barack Hussein Obama pada 2009, tidak boleh dijual dan dipasarkan di Negeri Paman Sam.

Bukan cuma diluar negeri, Rokok kretek nyata mendapat tantangan di dalam negeri. Pemerintah tengah gencar-gencarnya mempromosikan bahaya rokok, bahkan menaikan cukai rokok hingga 10,4% dengan alasan untuk penanggulangan kesehatan perokok, meski ditentang Komisi Nasional Pelestarian Kretek.

Ironis memang bila petani cengkeh kini mendapatkan harga cegkeh yang rendah. susana ekspor impor cengkeh yang merugikan, over produksi, kampanye tidak rokok pemerintah, penerapan cukai pemerintah, sampai pada banyaknya kendala peredaran rokok kretek global,  kesemuanya adalah tragedi menurunnya harga cengkeh saat ini.

Lantas bagaimana cara kita berharap. Semoga petani cengkeh sejahtera ?, atau semoga Indonesia sehat karena terbebas dari rokok. (rm)

Baca 130 kali

Terkait Artikel

Kontak Polisi

RESOR PALU